PEKALONGAN – Tingginya volume sampah organik rumah tangga yang belum terkelola secara optimal di Desa Jajarwayang, Kecamatan Bojong, Kabupaten Pekalongan, mendorong mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro untuk melakukan intervensi teknis melalui pembuatan Lubang Resapan Biopori (LRB). Program ini tidak sekadar berfokus pada pelubangan tanah biasa, melainkan menonjolkan kolaborasi rekayasa teknik antara Nobel Al Maududy dari jurusan Teknik Elektro dan Risqina Maulidah dari jurusan Teknik Sipil dalam merancang alat dan menentukan efektivitas resapan.
Urgensi pembuatan biopori ini berangkat dari kondisi riil di lapangan saat ini, di mana limbah dapur dan sisa tanaman warga seringkali hanya ditumpuk atau dibakar, yang justru memicu polusi udara dan menghilangkan potensi penyuburan tanah. Selain itu, karakteristik tanah di beberapa area pemukiman warga yang cenderung padat membuat air hujan sulit meresap, sehingga risiko genangan air muncul saat intensitas hujan tinggi. Melihat kondisi tersebut, solusi biopori dipilih sebagai metode ganda untuk mempercepat pengomposan sampah organik sekaligus memulihkan daya serap tanah.
Keunggulan utama program ini terletak pada proses manufaktur alat yang dilakukan sepenuhnya dari nol atau from scratch. Nobel Al Maududy mengambil peran sentral dengan merancang alat bor biopori mekanis yang disesuaikan khusus dengan kondisi tanah setempat. Proses ini diawali dengan perancangan desain mekanika 3D yang presisi, memperhitungkan sudut kemiringan mata bor dan kekuatan material agar alat mampu menembus lapisan tanah keras dengan beban kerja yang efisien. Berbeda dengan alat pabrikan standar, alat hasil fabrikasi Nobel ini dirancang agar lebih ergonomis dan tahan lama saat digunakan oleh warga.
Sementara itu, efektivitas fungsi biopori dipastikan melalui analisis tata letak yang dilakukan oleh Risqina Maulidah. Menggunakan pendekatan ilmu teknik sipil, Risqina melakukan survei lapangan untuk menentukan titik-titik pemasangan yang paling strategis. Penentuan lokasi ini didasarkan pada analisis kontur tanah dan arah aliran air permukaan, memastikan bahwa lubang yang dibuat benar-benar berfungsi maksimal dalam menangkap limpasan air hujan dan mempercepat proses pembusukan sampah organik di dalamnya.
Realisasi program ini telah dilaksanakan di wilayah RT 003 Desa Jajarwayang. Sebanyak tiga lubang biopori berhasil dibuat menggunakan alat bor kustom karya Nobel di titik-titik yang telah diperhitungkan oleh Risqina. Langkah ini diharapkan menjadi pemicu bagi masyarakat setempat untuk mulai mengelola sampah organik secara mandiri di halaman rumah masing-masing, mengubah masalah sampah menjadi kompos yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar.





Leave a Comment